MA MUALLIMIN NW BORO'TUMBUH: PROBLEM SOLVING
SITUS PRESIDEN RI

Rabu, 26 Desember 2012

PROBLEM SOLVING

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS
MELALUI MODEL PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING)
PADA SISWA KELAS V SDN KAUMAN 1 KOTA BLITAR

Rino Lengam
                                             Universitas Negeri Malang                     
E-mail: rhinodobo@1gmail.com

ABSTRACT:The purpose   of  this  study  to                describe (1) implementation of the IPS learning through Problem Solving Model to improving student learning outcomes, (2) describe an increase in student learning outcomes IPS, once implemented learning through Problem Solving Model. This study is an action research (Classroom Action Research) collaborative qualitative descriptive method. Research dilaksanankan in class V SDN Kauman 1 Blitar, school year 2012-2013. Data were obtained from document review, observation, interviews, and learning tests. The results showed that (1) the implementation of learning Problem Solving IPS model can increase student activity, (2) the implementation of IPS Learning Problem Solving model to improve student learning outcomes. Improved learning outcomes are measured from the average grade worksheets, process, and final test learning in pratindakan, cycle I and cycle II. Average yield of 36.3 pratindakan study, the first cycle of 64, and the second     cyclewas82.

Key Words: learning outcomes, ips, problem solving

KTSP (2006:60). dijelaskan ”Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu materi pelajaran yang diberikan di SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB, yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu social”. Pelajaran IPS bertujuan untuk mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Agar siswa memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan social. Selain itu, siswa diharapkan memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai social dan kemanusiaan, dan memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.
Bidang kajian IPS menuntut guru untuk membantu siswa menemukan sendiri data, fakta, konsep, dan generalisasi tersebut dari berbagai sumber agar dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa, dengan harapan pengalaman tersebut dapat berguna dalam kehidupannya dimasyarakat. Untuk itu, diperlukan penggunaan metode yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan dari mata pelajaran IPS. Tetapi, dalam kenyataannya dilapangan selama ini dilakukan lebih menekankan  pada aspek pengetahuan dengan mengafalkan sejumlah fakta-fakta sehingga tidak melatih siswa untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan berpikirnya. Selain itu, pembelajaran lebih berpusat pada guru, yang mana guru menjadi faktor utama yang harus ada dalam pembelajaran dan penggunaan metode ceramah menjadi pilihan yang utama. Sebagaimana diungkapkan Como dan Snow (dalam Kiranawati:2007), bahwa”model pembelajaran IPS yang diimplemasikan saat ini masih bersifat konvensional dan klasikal sehingga sulit memperoleh pelayanan secara optimal”.
Soemantri, N dalam Dzaki (2009) mengatakan ”Pembelajaran IPS sangat menjemukan karena penyajiannya bersifat menoton sehingga siswa kurang antusias dan mengakibatkan pelajaran kurang baik”. Sapriya (2009:57) menegaskan bahwa, “ salah satu pendekatan dalam pembelajaran IPS dan sekaligus menjadi tugas guru pada tingkatan pendidikan SD adalah menerjemakan materi yang sulit menjadi mudah atau materi pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkrit”. Hasil observasi peniliti lakukan di SDN Kauman I Kota Blitar  semester I diperoleh data dari 11 siswa yaitu sebanyak 7  atau 63,6 %  nilainya masih berada dibawah KKM, sedangkan siswa yang mencapai ketuntasan hanya 4 atau 36 %. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah 70 %. Hal tersebut jauh dari harapan. 1) Rendahnya nilai siswa dalam mata pelajaran IPS tersebut dikarenakan kurang tertariknya siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS.  2) Metode ceramah yang sering digunakan oleh guru siswa hanya mendengarkan. 3) Akibatnya siswa merasa bosan, dan merasa sukar dalam memahami materi.
Fakta dilapangan menunjukan bahwa guru kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar kurang mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif. Hal tersebut sejalan dengan penilitian Kertih (dalam Sa’adun, 2009:29) yang menunjukan bahwa persoalan mendasar yang dihadapi oleh guru adalah upaya memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang benar-benar relevan dengan misi dan krakteristik siswa. Begitu pula yang terjadi pada guru kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar masih menerapkan pembelajaran konvensional.
Pengamatan lebih lanjut yang dilakukan terhadap praktikan pembelajaran yang dilakukan guru kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar, guru lebih banyak melakukan ceramah, Tanya jawab, dan penugasan (PR). Guru hanya menggunakan perangkat pembelajaran yang diperoleh dari KKG, bukan buatan sendiri. Berdasarkan hasil observasi diketahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS semester I sangat rendah. Hasil wawancara dan pengamatan dengan beberapa siswa kelas V mengenai hasil belajar pada kelas mereka dapat disimpulakan bahwa adanya permasalahan terhadap hasil belajar yang kurang memuaskan. Mengetahui adanya permasalahan diatas, maka peniliti mencoba ikut mengupayakan agar dapat mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menggunakan suatu model Problem Solving. Karena model ini merupakan model pembelajaran yang menekankan pada terselesaikannya suatu masalah secara bernalar. Model pembelajaran ini juga mendorong siswa untuk berpikir secara sistematis maka menghadapkannya permasalahan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan yang ada dimasyarakat, selain itu pemecahan masalah sangat penting bagi siswa dan masa depannya. Berdasarkan hasil peniliti Selviana, Rika. 2007. Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Diklat Kewirausahaan di SMK Ardjuna 01 Malang, menyimpulkan model pembelajaran Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang fungsi kuadrat dan grafiknya, sehingga peniliti berkeinginan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran IPS di SDN Kauman 1 kota Blitar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving. Oleh karena itu, akan dilakukan penilitian kelas (PTK) dan peniliti mengambil judul ”Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Problem Solving di Kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar”.
METODE
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini mengarah kepada penelitian kualitatif serta jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Kehadiran peneliti di lapangan mutlak diperlukan karena peneliti bertindak sebagai perencana kegiatan, pelaksana pembelajaran, pengumpul data, penganalisis, dan pelapor hasil penelitian. Penelitian model Problem Solving untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS ini dilaksanakan di SDN Kauman 1 Kota Blitar, yang beralamat di Jln. Anjasmoro Kelurahan Kauman Kota Blitar, dengan subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar yang berjumlah 11 siswa, dengan rincian 4 siswa putri, dan 7 siswa putra.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penilaian proses dan hasil yang terdapat pada RPP. Sedangkan sumber data yang dijadikan sebagai sasaran penggalian dan pengumpulan data serta informasi dalam penelitian ini adalah tempat dan peristiwa, informan, serta dokumen atau arsip. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam mengamati pelaksanaan pembelajaran IPS pada materi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar  meliputi teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Proses analisis kualitatif mengacu pada model analisis Miles dan Huberman (1998) (dalam Sutopo ,2002: 91- 93) yang dilakukan dalam 3 komponen berurutan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Prosedur dan langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian mengikuti model yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robbin Mc Taggart (1988) dalam Arikunto, (2007: 118-133) yaitu (1) tahap perencanaan (planning) meliputi identifikasi masalah, perumusan masalah dan analisis penyebab masalah (probable causes), serta pengembangan intervensi (action/solution), (2) tahap pelaksanaan tindakan (acting) dilaksanakan untuk memperbaiki masalah, (3) tahap pengamatan (observing) adalah kegiatan pengamatan untuk mengetahui seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran, dan (4) tahap refleksi (reflecting) menjelaskan tentang perubahan yang terjadi setelah pelaksanaan tindakan.

HASIL
Pengamatan Pendahuluan
Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan dengan responden yaitu wali kelas V diperoleh data bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS di kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar menggunakan metode ceramah dan kegiatan sedangkan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru. Kurangnya interaksi antar siswa dan guru membuat pembelajaran bersifat monoton, dan tidak adanya respon positif dari siswa, dan sedikit interaksi serta kerjasama antar siswa membuat pembelajaran kembali bersifat teacher centered. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa terlihat hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Ketika guru menjelaskan tidak ada siswa yang bertanya ataupun mengungkapkan gagasannya. Beberapa siswa ada yang bermain dan berbicara dengan temannya dan tidak mendengarkan penjelasan guru. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung tampak membosankan bagi siswa, karena siswa tidak terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Nilai hasil belajar siswa pada pratindakan berkisar antara 41-75 dan nilai rata-rata kelas sebesar 56,36 dengan ketuntasan belajar siswa 36 %. Dari 11 siswa, yang dinyatakan tuntas belajar adalah 4 siswa. Sedangkan 7 siswa (63%) lainnya masih belum tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa berada di bawah standar ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 70.
Siklus I
Instrumen yang disiapkan pada tahap perencanaan siklus I adalah silabus pembelajaran, RPP pembelajaran model problem Solving, lembar kerja kelompok, tes akhir pembelajaran, menyiapkan media pembelajaran, dan menyiapkan instrumen data pendukung berupa lembar observasi siswa, lembar observasi aktivitas guru, dan pedoman wawancara. Tahap pelaksanan tindakan penelitian menggunakan model Problem Solving yang mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus I. Siklus I terdiri dari 2 kali tatap muka (masing-masing 2 x 35 menit). Pada tahap pelaksanaan tindakan peneliti bertindak sebagai guru dan dibantu oleh guru kelas V yang berperan sebagai observer ketika pembelajaran berlangsung. Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan I kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah tersusun sebelumnya dengan  model pembelajaran Problem Solving dan materi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia
Aktivitas Guru Selama Pembelajaran Siklus I
Penilaian aktivitas guru selama pembelajaran siklus I pertemuan 1 mendapatkan persentase 71,% dan termasuk kategori baik Hasil. Pelaksanaan langkah-langkah dalam model Problem Solving sudah dilakukan peneliti dengan baik, namun pada pertemuan 1 aktivitas guru yang masih mendapatkan skor rendah adalah pada aspek membimbing siswa bekerja dalam kelompok. Hasil observasi aktivitas guru pada pertemuan 2, guru sudah menunjukkan perbaikan mengajar. Hal ini ditunjukkan dari meningkatnya beberapa aspek yang diobservasi. Persentase keterampilan mengajar guru pada pertemuan 2 ini adalah 81%, dan masuk kriteria baik. Hasil ini jauh lebih baik daripada pertemuan 1.
Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran Siklus I
Hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 diperoleh 6 siswa yang nilainya diatas KKM dari 11 siswa dengan persentase 54,54%, aktivitas siswa masih dalam kategori kurang baik. Pada pertemuan 1 ini masih banyak dijumpai siswa yang belum mampu menerima anggota kelompoknya, karena kelompok disusun oleh guru secara heterogen. Selain itu, siswa juga masih belum terbiasa dengan diskusi kelompok.
Hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I pertemuan 2 diperoleh 7 siswa yang nilainya diatas KKM dari 11 siswa persentase aktivitas sebesar 63,62% dan masuk pada kategori cukup baik. Pada pertemuan ke 2 ini siswa sudah menunjukkan sikap mau menerima kelompok yang dibentuk oleh guru, dan mulai terbiasa dengan diskusi kelompok. Hasil observasi pada pertemuan 2 menunjukkan hasil yang lebih baik dari pada hasil observasi pertemuan 1.
Nilai Akhir Siswa Siklus I
Rentang nilai akhir pembelajaran siswa pada siklus I pertemuan 1 berkisar antara 60-90 dan nilai rata-rata kelas 71 dengan persentase ketuntasan 55%. Nilai rata-rata kelas sudah diatas batas tuntas (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 70, tetapi masih ada siswa yang belum mencapai batas ketuntasan belajar sebanyak 5 siswa (45,5%) dari 11 siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar. Hasil tersebut menunjukan bahwa pada siklus 1 pertemuan 1 ini secara klasikal siswa belum bisa dikatakan tuntas dalam belajar.
Rentang nilai akhir pembelajaran siswa pada siklus I pertemuan 2 berkisar antara 60-91 lebih menurun jika dibandingkan pada pertemuan 1, tetapi nilai rata-rata kelas naik 1,5 poin dari pertemuan 1 menjadi 73 dengan persentase ketuntasan 93%. Secara klasikal, pembelajaran pada pertemuan 2 ini masih dikatakan belum tuntas, untuk itu perlu dilakukan perbaikan pada kegiatan pembelajaran siklus ke II.
Siklus II
Perencanaan tindakan siklus II diawali dengan penyusunan instrumen pembelajaran berupa RPP pembelajaran model Problem Solving, lembar kerja kelompok, tes akhir pembelajaran, serta menyiapkan media pembelajaran, serta instrumen data pendukung berupa, lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi partisipasi siswa, dan pedoman wawancara. Mengacu pada hasil refleksi pasca siklus I, maka revisi tindakan yang dapat dilakukan pada siklus II adalah pemberian penguatan (reinforcement) baik secara lisan melalui kata-kata pujian maupun dengan tindakan, meningkatkan partisipasi siswa untuk bertanya dan mengungkapkan pendapat, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajari, sehingga guru dapat mengetahui siswa yang sudah memahami dan menguasai konsep materi.
Aktivitas Guru Selama Pembelajaran Siklus II
Hasil observasi aktivitas guru pada siklus II mengalami kenaikan jika
dibandingkan pada siklus I. Aktivitas guru pada pertemuan 1 setelah diobservasi mendapatkan skor 16, dengan persentase skor sebesar 76,1%. Kemampuan guru dalam mengajar menunjukkan perubahan kearah yang positif.
Observasi aktivitas guru pada pertemuan 2 menunjukkan kenaikan pertsentase lagi sebesar 9,5%, yaitu yang semula 76,1% meningkat menjadi 90,4%. Pada pertemuan ini, guru sudah membuktikan bahwa mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam mengajar dengan model Problem Solving. Rata-rata aktivitas guru pada siklus II adalah 90,4% dan termasuk kategori sangat baik. Aktivitas guru meningkat sebesar 11,9%. Hal tersebut ditunjukkan dari semua indikator yang mengalami peningkatan. Kekurangan-kekurangan pada aktivitas siklus I telah dapat diperbaiki pada siklus II.
Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran Siklus II
Hasil penilaian lembar observasi aktivitas siswa menunjukkan hasil yang lebih baik pada siklus II. Persentase aktivitas siswa pada pertemuan 1 mencapai sebesar 78% dengan predikat baik. Pada siklus II ini, siswa sudah mampu menerima anggota kelompok heterogen yang dibentuk guru.
Hasil penilaian aktivitas belajar siswa pertemuan 2 menunjukkan bahwa aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 4% (pertemuan I= 78%, pertemuan II= 81%). Peningkatan aktivitas siswa ini menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model kepala bernomor struktur dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
Nilai Akhir Siswa Siklus II
Rentang nilai akhir pembelajaran siswa pada siklus II pertemuan 1 berkisar antara 60-90 dan nilai rata-rata kelas 74 dengan persentase ketuntasan 73%. Nilai rata-rata kelas sudah diatas batas tuntas (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 70, tetapi masih ada siswa yang belum mencapai batas ketuntasan belajar sebanyak 3 siswa (27,2%) dari 11 siswa.
Rentang nilai akhir pembelajaran siswa pada siklus II pertemuan 2 berkisar antara 70-90 mengalami peningkatan jika dibandingkan pada pertemuan 1, nilai rata-rata kelas naik 3,27 poin dari pertemuan 1 menjadi 77,27 dengan persentase ketuntasan 100%. Pada pertemuan 2 ini seluruh siswa dinyatakan telah mencapai ketuntasan. Secara klasikal, pembelajaran pada siklus II pertemuan 2 ini dikatakan tuntas, karena mencapai 100% siswa dalam satu kelas yang dinyatakan tuntas belajar. Untuk itu pembelajaran pada siklus II ini sudah selesai, karena sudah tercapai ketuntasan belajar.
Temuan Penelitian
Pembelajaran IPS yang dilaksanakan guru kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar pada pratindakan masih belum mempergunakan model yang sesuai. Pembelajaran dilakukan dengan cermah. Selain itu tugas yang diberikan kepada siswa, berasal dari buku ajar yang telah dibeli siswa, sehingga kurang efektif, karena sebagian siswa sudah mengerjakannya di rumah maupun di tempat les.
Penggunaan media dalam pembelajaran IPS model Problem Solving dapat menarik perhatian siswa, antusiasime siswa, serta dapat mempermudah siswa menangkap konsep materi yang diajarkan guru, dan siswa dapat memecahkan suatu permasalahan yang sering terjadi dilingkungan tempat tinggalnya. Model pembelajaran Problem Solving merupakan model pembelajaran yang cocok diterapkan pada mata pelajaran IPS, karena model ini dapat meningkatkan aktivitas, dan semangat siswa dalam belajar, sehingga siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Selain itu model ini juga mengajarkan kepada siswa untuk mengidentifikasi masalah,mendefinisikan masalah,dan memecahkan masalah sehingga hasil belajar IPS siswa meningkat.
Model pembelajaran Problem Solving yang diterapkan dalam pembelajaran hubungan antar satuan waktu pada siklus I dan siklus II dapat meningkatkan kemampuan proses dan hasil belajar siswa.

PEMBAHASAN
Penerapan Model Pemecahan Masalah Problem Solving Dalam Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar
Model pembelajaran Problem Solving telah diterapkan sesuai dengan langkah-langkah pada rancangan pembelajaran. Guru telah menerapkan keenam langkah pembelajaran menggunakan model Problem Solving yang meliputi, Siswa mengidentifikasikan masalah, siswa mendefinisikan masalah, siswa mencari solusi, siswa melaksanakan strategi, siswa mengkaji kemabali dan mengevaluasi pengaruh dan siswa mempersentasikan hasl permasalahan. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan guru pada siklus I pertemuan 1 dan 2 belum dapat dilaksanakan secara optimal. Dapat dilihat dari persentase aktivitas guru yang dicapai pada pertemuan I sebesar 71,4% dan pertemuan II sebesar 81%. Temuan aktifitas guru pada siklus II telah dapat dilakukan secara optimal. Hal ini terbukti dari hasil prosentase aktifitas guru pada pertemuan I mencapai 76,1% dan pertemuan II mencapai 90,4%. Kenaikan persentase aktivitas guru mengindikasikan bahwa guru sudah menguasai langkah-langkah model Problem Solving dengan sangat baik.
Penerapan model Problem Solving pada pembelajaran IPSdilakukan guru dengan menggunakan media pembelajaran, dengan tujuan untuk membantu siswa mengkonkritkan apa yang dipelajari, dan menemukan sendiri konsep, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Latuheru dalam Gino (2000: 38) berpendapat bahwa siswa yang diberi kesempatan untuk melihat, memegang, meraba, atau mengerjakan sendiri, maka mempermudah para siswa untuk mengerti pengajaran tersebut, dan sulit untuk melupakannya. Sedangkan Mukti (1991 : 15) berpendapat bahwa “dalam proses pembelajaran siswa akan lebih banyak menerima informasi dan mudah untuk memahami sesuatu jika ada yang menjadi pusat perhatiannya, maka diperlukan media”.
Temuan hasil aktivitas siswa pada siklus I menunjukkan bahwa siswa belum memahami arti penting proses pembelajaran, sehingga siswa tidak serius dalam belajar. Pada siklus I pertemuan 1 aktivitas siswa dalam belajar masih kurang baik, aktivitas siswa yang terukur hanya sebesar 56%. Setelah pertemuan 2, aktivitas siswa mengalami peningkatan ke arah positif sebesar 64%. Dari hasil penelitian diketahui siswa masih banyak yang sibuk sendiri atau bermain-main dengan temannya, kerjasama kelompok belum maksimal, siswa masih pasif dalam bertanya dan menyampaikan pendapat untuk menanggapi hasil presentasi atau menjawab pertanyaan dari kelompok lain, hal ini kemungkinan disebabkan karena kegiatan pembelajaran dengan menggunakan diskusi dan presentasi belum terbiasa dihadapi oleh siswa.
Temuan hasil aktivitas siswa pada siklus II menunjukkan bahwa siswa lebih aktif terlibat dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan diskusi. Pada siklus II pertemuan 1 hasil aktivitas siswa menjadi lebih baik yaitu 56%, dan mengalami peningkatan lagi setelah pertemuan 2 yaitu 64%. Keadaan ini menunjukkan siswa sudah mampu bekerjasama dalam kelompoknya, dan dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran mengalami kemajuan dengan semakin meningkatnya persentase aktivitas siswa.
Pembentukan kelompok dalam pembelajaran IPS dengan model Problem Solving pada siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar, merupakan upaya guru mengkondisikan siswa agar berinteraksi dengan siswa lain dalam satu kelompok dan antar kelompok, sehingga terjadi proses pembelajaran yang interaktif . Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I dan siklus II tampak bahwa siswa terlibat aktif dalam belajar. Siswa yang pada tahap pratindakan pasif mulai berani mengemukakan pendapatnya, dan siswa yang pada awalnya kurang bisa bekerjasama, menunjukkan peningkatan menjadi mau bekerjasama. Keadaan ini menunjukkan bahwa ”siswa mulai saling bergantung dalam kelompok-kelompok kecil secara kooperatif agar siswa dapat bekerjasama dengan kemampuan maksimal yang dimiliki”, sesuai dengan pendapat Hadi (2005: 1).
Berdasarkan temuan yang diperoleh dari aktifitas guru dan siswa maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Solving pada materi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia yang diterapkan pada siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar telah sesuai dengan perencanaan.

Peningkatan Hasil Belajar IPS Siswa Melalui Model Pemecahan Masalah  (Problem Solving) Pada Siswa Kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar
Temuan yang diperoleh dari hasil penelitian melalui tes akhir pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I pertemuan I pada hasil belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan, yaitu persentase ketuntasan siswa pertemuan 1 sebesar 55% dan pertemuan 2 sebesar 64% naik sebesar 9%. Hasil yang diperoleh ini masih belum dikatakan tuntas secara klasikal, karena belum ada 70% siswa yang dinyatakan tuntas belajar. Oleh kerena itu, hasil yang diperoleh pada siklus I diperbaiki pada siklus II. Hasil perbaikan siklus II menunjukkan hasil pada pertemuan 1 ketuntasan siswa mencapai 73% dan pada pertemuan 2 mengalami peningkatan menjadi 100% siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa dari pertemuan ke pertemuan berikutnya hasil belajar siswa yang dibelajarkan melalui model Problem Solving mengalami peningkatan.
Pada tahap sebelum pembelajaran dilaksanakan dengan model ini,hasil belajar siswa masuk kategori kurang dengan rata-rata kelas yaitu 36% atau dari 11 siswa hanya 4 siswa yang tuntas belajar. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan model ini, sampai pada tahap siklus I pertemuan 1 rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 55 atau 6 siswa tuntas belajar dan 5 siswa dikatakan belum tuntas. Peningkatan ini sebagai indikator bahwa model pembelajaran kepala bernomor struktur sesuai diterapkan pada mata pelajaran IPS khususnya pada materi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. Seperti apa yang diungkapkan oleh Djamarah (2006 : 115) bahwa strategi penggunaan metode dan model pembelajaran sangat menentukan kualitas hasil belajar.
Peningkatan hasil belajar siswa setelah dibelajarkan melalui model Problem Solving ini dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah aktivitas siswa dalam kerja kelompok. Kerja kelompok mengajak siswa untuk lebih aktif menggali informasi sebagai bahan untuk menjawab soal yang telah diberikan guru. Siswa juga berkesempatan memahami secara langsung prinsip dan konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar bersama kelompok. Kerja kelompok yang dilaksanakan oleh siswa dapat menjadi pengalaman bermakna, karena merupakan salah satu strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan untuk berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar siswa yang bersifat mandiri akan membantu meningkatkan penguasaan konsep IPS siswa. Pencapaian penguasaan konsep siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran, ditunjukkan pada nilai akhir hasil belajar siswa.

PENUTUP
Kesimpulan
Penerapan pembelajaran IPS melalui model Problem Solving dilaksanakan dengan langkah siswa mengidentifikasi masalah, siswa mendefinisikan masalah, siswa mencari solusi, siswa melaksanakan strategi, siswa mengkaji kembali hasil dan penarikan mempersentasikan hasil. Penerapan pembelajaran IPS melalui model Problem Solving meningkatkan aktivitas siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar dalam pembelajaran.
Penerapan pembelajaran IPS melalui model Problem Solving meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Kauman 1 Kota Blitar. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan jumlah siswa dan presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal yang memenuhi KKM yang ditentukan pada setiap siklusnya.

Saran
Saran yang diberikan kepada guru adalah agar menggunakan model pembelajaran Problem Solving pada pembelajaran IPS, khususnya materi Keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia.



DAFTAR RUJUKAN
Wena, Made. 2009. Strategi pembelajaran Inovatif Kotenpoler. Jakarta.: Bumi Aksara
Universitas Negeri Malang. 2012. Pedoman Penulisan Karya Ilmuiah. Malang: Universitas Negeri Malang
Djamarah bahari Syaiful. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Arifin, Z. 1990. Strategi Peningkatan Hasil Belajar Siswa. Jakarta: Rajawali Press
Dimyati. 1995. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka cipat
Hudojo, Sutawijaya. 2003. Langkah –Langkah Pembelajaran Problem Solving. (Online), (http://www.wikipedia/wiki.org. diakses 23 januari 2011
Cahyani Binar Titis. 2011. Peningkatan kemampuan Memecahkan Masalah Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Pada Mata Pelajaran IPS Untuk Siswa Kelas IV SD Gadungan 02 Kabupaten Blitar. Blitar: Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Pendidikan KSDP.
Arikunto Suharsimi, dkk. 2010. Penilitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Kusumah Wijaya, dkk. 2010. Mengenal Penilitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media
Kunandar. 2008. Langkah Mudah Mengenal Penilitian Tindakan Kelas. Jagaksar: PT Rajagrafindo Persada
KTSP.2006.  Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).Jakatra : Depdikbud
Como,dkk.2007. Model-Model Pembelajaran. Jakarta:
 Rika Selviana.2007.Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Diklat Kewirasusahaan di SMK Arjuna 01 Malang. Malang:SMK Arjuna 01.
Abu Ahmadi, dkk.1997.Strategi Belajar Mengajar. Bandung:Cv Pustaka Setia
Arifin, Z. 1990. Strategi Peningkatan Hasil Belajar Siswa. Jakarta: PT Rineka Cipta
Dimyati. 1995. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta
Etin  Solihatin, Rahayo. 2008. Cooperatif Learning Analisa Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Hudoyo, Sutawijaya. 2003. Langkah-Langkah Pembelajaran Problem Solving. (Online), (http://www.wikipedia/wiki.org. , diakses 3 Oktober 2012.
Hudoyo, Sutawijaya. 2003. Langkah-Langkah Pembelajaran Problem Solving. (Online),( http://wwwnetlibrary.com), diakses 3 Oktober 2012
Moeljono. C. 2004. Menjelajahi Ilmu Pengetahuan Sosial.(Online), (http://www.wikipedia/wiki.org. ,diakses 3 Oktober 2012
Mulayani Sumantri, Johar Permana. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Maulana
Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodelogi Penilitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana. 1991. Evaluasi Pendidikan Dasar. Jakarta: Bumi Aksara
Nu’man. S. 2003. Konsep Dasar IPS. Bandung: CV.Mulana
Polya. 2003. Permasalahan-Permasalahan dalam Pendidikan. Jakarta: Bandung CV.Pustaka Setia
Piaget. 1963. Memahami Perkembangan Anak Usia Dini. (Online), (http:www.wodpres.com) diakses 3 Oktober 2012
Suharsimi Arikunto, dkk. 2007. Penilitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Suhardiman, A. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press
Simson. 2002. Aktif dalam Pembelajaran. Jogjakarta: Center For Teaching Staff Development
Ulva Luluk Nur. Hamidah.2009. Penerapan Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang Konsep Pengukuran Waktu di Kelas II SDN Kaweron 02 Talun Kota Blitar. Skripsi tidak diterbitkan Universitas Negeri Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer